Sosial Politik

Tukang Ojek, Nasibmu Kini

Mengapa-ojek-benci-gojek-grabbikeAkhir – akhir ini mulai marak mengenai pemberitaan konflik antara tukang ojek tradisional konvensional yang biasanya mangkal di gang – gang dan sudut – sudut perumahan, dengan tukang ojek pesanan online melalui aplikasi seperti Gojek dan Grabbike. Di beberapa sudut gang marak spanduk – spanduk provokatif yang melawan kehadiran ojek pesanan melintasi suatu kawasan tertentu. Saya prihatin sekaligus entah tidak tahu harus bersikap apa, terlebih media sosial begitu ramai memperbincangkan banyak konflik yang terjadi seperti pemukulan terhadap pengemudi ojek online dan lain sebagainya.

Ada baiknya sebelum menilai, kita mengambil langkah mundur untuk menilai dengan jernih persoalan ini. Tentu penolakan dari tukang ojek pangkalan itu ada, sebagai sebuah resistensi terhadap terancamnya keberlangsungan mata pencaharian mereka. Siapa yang melindungi nasib mereka dari arus deras teknologi informasi yang menyerbu dan mengancam piring nasi istri dan anak mereka selain  diri mereka sendiri?

Adanya tindakan anarkis tentu bukan hal yang berdiri sendiri, melainkan pasti ada sebuah sebab yang melatarbelakanginya, saya merasakan ada sebuah sebuah perasaan terancam, dan ketidakpercayaan terhadap negara yang harusnya menjaga dan menjamin mereka untuk mencari nafkah. Maka jika kita melihat di sisi ini, kita tidak bisa seratus persen menyalahkan tindakan preman para tukang ojek pangkalan. Mereka bukan seorang yang melek IT – seperti anak muda jaman sekarang yang mahir menggunakan smartphone, sehingga bagaimana mungkin mereka bisa  bergabung dengan arus baru “ojek online”. Jangan salahkan mereka. Siapakah yang digaji dengan uang pajak sehingga memiliki tugas memberikan pelatihan dan pemahaman IT kepada rakyat termasuk tukang ojek?

banner-anti-gojek-grabbike

Jadi ketika para tukang ojek itu gaptek, tentu itu bukan dosa mereka, para orang kecil itu sudah terlalu sibuk untuk menyambung hidup keluarganya, sehingga lupa akan datangnya tsunami teknologi informasi yang hampir – hampir menyapu bersih dan menenggelamkannya. Pun juga, kita tidak bisa menyalahkan 100 persen atas tindakan kekerasan yang mereka lakukan, karena melalui pengalaman hidup seperti apa sehingga mereka bisa berlaku lembut, di suatu atmosfir indonesia yang penuh dengan kekerasan ekonomi, kekerasan politik, kekerasan budaya dan sosial akhir – akhir ini.

Para tukang ojek itu tidak seperti sarjana – sarjana yang berjejer-jejer gelarnya, yang dengan mudah membuat proposal untuk mengemis sumbangan perusahaan – perusahaan, mereka tidak seberuntung orang yang bercelana dan berkemeja rapi yang hidupnya serba terlindungi dan tercukupi.

Maka dalam hal ini, alangkah bijak untuk tidak terlalu cepat menilai sebelum menganalisis masalah – masalah ini dalam beberapa lapisan yang coba saya utarakan sedikit dalam beberapa bagian.

Pesatnya Arus Teknologi Informasi

Perkembangan era teknologi informasi benar – benar merevolusi cara pandang kita tentang batas – batas daerah mulai dari kota, provisi hingga negara.  Sekat – sekat itu praktis hampir tidak ada. Seseorang yang berjauhan berbeda pulau bahkan berbeda negara bisa saling berkirim pesan singkat di ponselnya dalam hanya beberapa detik dengan biaya yang murah.

Era transaksi yang dahulu menggunakan uang tunai dan membutuhkan waktu berhari – hari untuk mengirimkan sejumlah rupiah ke daerah sebrang, kini hanya memerlukan waktu beberapa detik saja dengan teknologi e-banking. Mungkin besok – besok kita bisa buang hajat tiap pagi juga secara online.

Dari kemudahan mengirim uang melalui internet, berkembanglah era jual beli online, model belanja gaya baru yang tidak membutuhkan tatap muka antara penjual dan pembeli, semua transaksi – mulai dari pemesanan barang hingga pembayaran cukup dilakukan lewat internet. Mudah dan sederhana.

Lambat laun, semua orang bisa menjadi penjual asalkan terknoneksi dengan internet, mereka dengan mudah menjajakan banyak komoditas, tanpa harus membuka kios toko di pasar, di mall, atau di pinggir – pinggir jalan dengan menanggung resiko bermain  petak umpet dengan satpol pp. Semuanya dilakukan dengan sekali klik, menjual komoditas  di Internet.

Mungkin nanti pasar dan mall tidak akan lagi ramai seperti sekarang, lambat laut mereka semua akan beralih berdagang secara online. tidak ada lagi tatap muka, tidak ada lagi obrolan ibu – ibu warung dengan penjual sayur keliling. Tidak ada lagi sentuhan manusia dengan manusia. Semua berubah menjadi kapitalisme, apa yang dihargai dari anda tidak lebih dari kepemilikan rupiah di kantong dan di rekening tabungan anda.

Maka kini kita semua menjadi saksi nyata dari  masa transisi dari sebuah era yang disebut orang sebagai jaman  “kegelapan” yang konvensional trandisional, menuju sebuah abad “pencerahan” yang serba moderen dan digital. Dan di setiap masa transisi, sebuah konflik tak akan bisa dihindari, antara kaum pembaharu yang mencoba masuk di satu pihak melawan pihak lain yang merupakan kaum konservatif yang bertahan dengan nilai – nilai lama yang telah dipegangnya.

Dalam tulisan ini saya membuat satu penafian  bahwa apa yang baru itu tak selalu baik, dan yang konservatif  tradisional juga tak selamanya buruk. Masing – masing ibarat dua sisi mata uang dengan  plus minusnya yang silih berganti.

Ketika sebuah nilai baru mulai diterapkan, akan ada beberapa respon masyarakat terhadap nilai – nilai yang masuk tersebut. Di satu sisi ekstrim ada pihak dengan tangan terbuka menerima pembaruan  dan langsung menjadikannya sebagai nilai – nilainya yang baru seraya membuang jauh – jauh nilai – nilai lama yang dulu dipakainya. Saya coba menyebutnya  sebagai adopsi.

Di sisi ekstrim yang lain, ada yang mencoba bertahan dengan nilai yang ada, dan menolak mentah – mentah nilai baru yang masuk. Mereka sebisa mungkin bertahan, dan mencoba mengalahkan nilai baru tersebut. Hasilnya ada dua kemungkinan, mereka tergerus nilai baru lalu mati, atau jika mereka beruntung, mereka masih bertahan meskipun dengan gerak terbatas, sedangkan kemungkinan kedua mereka menjadi besar hingga mengalahkan nilai baru tersebut. Ekstrim ini saya sebut sebagai sebuah proses resistensi.

Di antara keduanya, ada pihak yang menerima nilai – nilai baru meskipun dengan kehati-hatian, dan kewaspadaan sikap untuk memilah dan memilih, sedemikian hingga nilai – nilai baru ini bisa hidup berdampingan dengan nilai -nilai lama dan menghasilkan suatu nilai baru yang berbeda dengan dua nilai yang sudah ada sekaligus masih sesuai dan kompatibel dengan keduanya, saya sebut proses itu sebagai alkuturasi atau adaptasi.

Maka di pihak manakah kita harusnya ikut mengambil barisan. khairul umuri ausatuha. Sebaik – baik urusan adalah di pertengahan. Maka konsekuensinya di barisan ini adalah kejernihan pandangan dalam  mengaspresiasi  dua ekstrim yang ada untuk kemudian mengambil sikap di tengah -tengah. mengambil apa yang baik dan membuang segala yang buruk dari keduanya

Dalam jual beli online sebenarnya juga ada potensi konflik, para penjual tradisional yang menjual barang dagangannya di toko saya yakin sudah banyak yang mengeluh akan omzetnya yang menurun, namun konflik tidak terjadi seperti halnya kasus tukang ojek, karena penjual online dan penjual tradisional tidak pernah bertemu secara fisik, berbeda dengan tukang ojek yang lebih rentan gesekan karena pertemuan fisik yang tidak bisa dihindarkan antara mereka berdua.

Tukang Ojek, Sebagai Indikator Transportasi Publik

Menurut teori ekonomi, suatu penawaran terjadi dikarenakan adanya banyak permintaan. Ojek hadir di tengah masyarakat dikarenakan sistem transportasi publik yang ada tidak mencukupi masyarakat untuk berpergian dari satu titik ke titik yang lain. Di negara – negara maju yang memiliki transportasi publik yang bagus, jasa transportasi seperti ojek  akan mengalami perkembangan yang terbatas dan tidak sepesat di Indonesia yang belum memiliki transportasi publik yang memadai.

Dari hipotesis ini, maka kita bisa  menilai kinerja suatu pemerintah di sektor transportasi umum ditandai dengan pesatnya pertumbuhan tukang ojek. Semakin banyak tukang ojek di suatu daerah menandakan semakin gak becusnya pemerintah meladeni kebutuh transportasi massal rakyatnya, begitupun pula sebaliknya. Maka dari pesatnya pertumbuhan tukang ojek online, harusnya menjadi tamparan keras dan bahan kajian serta instrospeksi bagi pemangku kepentingan mengenai jauhnya jarak antara permintaan dengan  pelayanan pemerintah terhadap angkutan umum bagi rakyat.

Berhati – hati

Banyaknya konflik yang diangkat di media mengenai konflik tukang ojek kadang berat sebelah, di beberapa media yang saya baca, banyak yang terlalu mendiskreditkan tukang ojek tradisional, dengan kesan bahwa ojek online telah dizalimi. Pun begitu saya cenderung menaruh kewaspadaan pada beberapa media sosial yang memberitakan konflik ini, terlebih jika konflik yang diberitakan cenderung dibumbui oleh opini – opini sepihak yang boleh jadi terkesan menyudutkan satu pihak saja. Boleh jadi itu trik pemasaran dari ojek online agar semakin dikenal dan digunakan oleh masyarakat, karena yang saya tahu layanan ojek online belum ada yang secara resmi mengiklankan dirinya di media mainstream seperti televisi atau koran. Semoga kecurigaan saya itu salah. Karena itu bukanlah cara pemasaran yang sehat jika anda mempromosikan diri sembari menjatuhkan yang lain.

Rakyat memang merupakan pihak yang selalu dijadikan korban oleh kemalasan berpikir pemerintahnya, begitu lama, hingga lama kelamaan mereka menganggap penindasan itu bukanlah penindasan. Baik ojek tradisional, ojek online ataupun penumpangnya, sebenarnya merupakan korban dari sebuah sistem transportasi yang bobrok akibat pemerintahan yang  tidak becus mengelola dan melayani rakyat yang telah membayarnya. Hal itulah yang menyebabkan masing – masing pihak akhirnya bertindak sendiri – sendiri untuk menyelamatkan kepentingan dan dapurnya, sehingga berujung pada gesekan dan konflik horisontal.

Tanpa mencoba meyederhanakan masalah. Kita harus mahfum bahwa para tukang ojek tradisional yang melakukan tindakan preman itu sudah barang tentu bukanlah dari golongan orang yang mengenyam sekolah hingga ke pendidikan tinggi, bukan seperti pemilik dan pendiri ojek online. Mereka tidak punya kepekaan dan kewaspadaan untuk cerdas mengantisipasi dan menghimpun diri mereka dalam sebuah organisasi seperti koperasi atau semacamnya untuk menjadi alternatif gerakan dari ojek online. Strategi dan penyikapannya sudah barang tentu akan cenderung lebih emosional, bahkan mungkin cenderung merupakan sikap “bunuh diri”. Maklum, selama ini mereka hanya menjadi ojekan dan tunggangan para calon kepala daerah dan politisi partai tiap lima tahun sekali untuk sampai ke tujuan karir politiknya, lalu begitu tiba di tujuan, jasa mereka akan dilupakan hanya dengan 10 ribu dan 20 ribu.

Oh tukang ojek, nasibmu kini.

Tagged , , ,

1 thought on “Tukang Ojek, Nasibmu Kini

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.