Perenungan, Sosial Politik

Sarjana To be

Setiap orang tua selalu ingin menyekolahkan anaknya setinggi – setingginya. si anak harus lebih baik daripada orang tuanya. Jangan menjadi orang kecil seperti mereka yang tidak tentu perbulan dapat berapa. Begitulah jika ditanya kepada setiap orang tua, mengapa mereka bersedia banting tulang lebih keras demi menyekolahkan si buah hati. Itu saja  tidak cukup, jika bisa, dan mampu secara finansial, tidak segan – segan orangtua mencari tempat  yang bergengsi, favorit, unggulan, agar si anak lebih cerah masa depannya.

Setelah sekian lama, si anak bersekolah dari jenjang sekolah dasar, hingga perguruan tinggi, kemudian tibalah saat yang ditunggu – tunggu, hari dimana sang anak lulus dari universitas, begitu bahagianya  orangtua melihat anaknya bisa menamatkan pendidikan-tingginya. Si anak pun tidak jauh berbeda, dengan paras berseri – seri menjalani proses wisudanya, jerih payah yang dijalani selama beberapa tahun, tuntas sudah, dengan, selembar kertas ijazah, juga gelar Sarjana yang berhak disematkan dibelakang nama. Gelar itu dibawanya kemana – mana, mulai dari  kartu nama, papan nama, bahkan juga undangan pernikahan.

Ya, gelar pendidikan adalah impian setiap kita, membahagiakan rasanya punya gelar berderet – deret di depan atau belakang nama. Itulah status sosial yang baru. Itulah feodalisme  modern masyarakat kita. Semakin panjang rentetan gelar, menandakan semakin intelektual dan berkelas.  Orang – orang kecil yang tidak punya gelar atau bersekolah setinggi kita pastilah orang yang sungguh layak dikasihani, karena hanya memiliki impian – impian kecil, dan keinginan -keinginan sederhana. Bekerja dengan penuh peluh dan debu, disengat matahari kala siang, dan ditusuk udara dingin kala malam.

Dengan gelar itu si sarjana memanjat karir pribadi, mengejar gaji tinggi, meninggalkan orang – orang kecil, dengan  sesekali berempati dengan bersedekah. Memberi seratus, dua ratus ribu, sembari memberi ceramah perihal jaminan rejeki Tuhan, menyuruhnya untuk sabar, seolah kita pernah merasakan dan paham betul apa yang dialami oleh mereka

Memang apa salahnya, orang menginginkan gelar, sebagai konsekuensi dari pendidikan tinggi? Tentu tidak ada yang salah, sepanjang gelar itu bisa memotivasinya untuk lebih banyak berbuat menyumbangkan keilmuannya. Menumbuhkan kerja keras dan pencapaian untuk masyarakat. Sedemikian hingga namanya-lah yang lebih dominan dibandingkan gelarnya.

Gelar boleh ada boleh tidak. Karya yang dipersembahkannyalah yang harusnya lebih banyak berbicara daripada gelar-gelar. Namun jika berhenti akan kebanggaan akan status, gelar sarjana, Magister, Doktor, tentu efeknya tidak akan pernah baik. karena dia hanya menumpang crentelan gelar lalu merasa puas dengannya.

Kurangnya Kepedulian Sosial

Saya pribadi, bisa memaklumi mengapa kecenderungan kita berpikir dan bersikap menjadi sedemikian. Sarjana bagi sebagian orang adalah pencapaian, bukan dianggap sebagai sebuah tanggung jawab. Mau tidak mau, kurikulum pendidikan nasional dimana kita dididik  turut serta, sedikit banyak, membuatnya tumbuh subur. Pendidikan formal kita masih bersifat satu arah, anak didik dianggap bagaikan gelas kosong, dicekoki beragam pengetahuan, mana yang baik, mana yang buruk. Mereka telah disiapkan seperangkat hukum – hukum, tata aturan yang harus dihafalkan, tak perduli ia memahami atau tidak.

Bahwa kebiasaan menghafal itu tidak menambah kecerdasan, malah menjadikan saya bodoh, mekanis, seperti mesin

Tan Malaka, Madilog

Anak didik tidak pernah diberikan atmosfer untuk mengenali, menemukan hukum, dan aturan itu dengan menggali dari caranya sendiri, melalui proses diskusi, eksperimen dan dialektika yang panjang. Tidak perduli sudah berapa kali diubah,  Kurikulum kita, masih  belum sanggup memberikan pengalaman kehidupan yang nyata yang terkait dengan kehidupan masyarakat di sekitarnya.

Di sebuah Taman Kanak – Kanak misalnya, murid mendapatkan pelajaran mengenai jenis – jenis dinosaurus,  dan seluk beluk tentang hewan purba yang hidup di jaman mesozolikum itu. Sementara si anak sendiri kesehariannya hidup di lingkungan dengan ayam atau bebek yang dipelihara di belakang rumah.

Apakah artinya kesenian
Bila terpisah dari derita lingkungan
Apakah artinya berpikir
Bila terpisah dari masalah kehidupan

~WS Rendra, Sajak Sebatang lisong.

Kebiasaan – kebiasaan konsumtif, sedikit banyak akan membuat manusia menjadi pasif, lalu perlahan,  mematikan daya kritis dan kreatif seseorang. Maka yang  yang diinginkan sarjana – sarjana  kita kebanyakan, pasti yang praktis – praktis saja, dan kurang begitu bisa menikmati proses. ingin langsung cepat enak, gampang cepat menyerah, tidak thaft dalam menghadapi masalah. Hal ini kemudian berdampak lebih lanjut pada toleransi akan ketidakberesan yang terjadi di lingkungannya

Sikat pasif dan konsumtif amat dekat dengan apatisme. Sebab ia tidak melatih tenaga berjuang, militansi, sikap perlawanan untuk mengubah keburukan jadi kebaikan. Apatisme bisa bisa menutup pandangan terhadap gerak kenyataan

Emha Ainun Nadjib, Indonesia Bagian dari Desa Saya

Maka jangan heran, jika yang dimaksud dengan pencapaian oleh pemuda kita adalah sesuatu yang bersifat temporer dan singkat sifatnya. Baginya pendidikan hanyalah cara untuk meraih karir pribadi. Sekolah, juga kampus, bukan lagi tempat mencari ilmu, terutama. Namun sebagai suatu instrumen investasi. layaknya reksadana, yang diharapkan memberikan imbal balik materi sebanyak – banyaknya.

Mereka hanya mampu berpikir satu jengkal, tanpa kesigapan kuda – kuda dan nafas pajang untuk sanggup melanjutkan ke jengkal berikutnya. Masalah yang paling aktual misalnya, bagaimana saat masyarakat menengah kita merespon konflik sosial antara ojek online dan angkutan umum, juga antara taksi online dan taksi konvensional. Sebagian besarnya hanya bisa berpikir selangkah kedepan.Ikut arus  mendukung salah satu pihak, tanpa ada pengenalan lebih terstruktur dan panjang bahwa kedua pihak hanyalah korban dari  pemerintah yang abai akan transportasi publik warganya. (baca: Kita Bagian dari Sistem Transportasi Yang Payah)

Ilmu yang harusnya bersifat ruhani,  sudah menjadi komoditas yang diperjualbelikan, juga dikapitalkan, sebuah alat modal  untuk menambang kekayaan sebanyak-banyaknya. Maka jangan heran jika sebagian besar kita menjadi tidak perduli lagi apa yang bisa diperbuat setelah sarjana itu tercapai, what can yo do. Alih – alih, yang lebih kita inginkah adalah what can you have, kepemilikan materi, gaji, rumah, mobil dan, yang tidak ketinggalan what can you be. Disinilah mengapa gelar dan status begitu penting, setidaknya di republik ini.

Jika Bung Karno pernah berpidato,

Ini Dadaku, mana dadamu.

Maka harusnya para lulusan perguruan tinggi yang disebut agen perubahan, memiliki semangat dan ekspresi serupa.”Ini Dadaku, mana dadamu. Ini Karyaku, mana karyamu. Ini sumbangsihku, mana sumbangsihmu. Bukannya “ini gelarku, mana gelarmu.

Bila kaum muda yang telah belajar di sekolah dan menganggap dirinya terlalu tinggi dan pintar untuk melebur dengan masyarakat yang bekerja dengan cangkul dan hanya memiliki cita-cita yang sederhana, maka lebih baik pendidikan itu tidak diberikan sama sekali

Tan Malaka, Madilog

Tagged , ,

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.